Minggu, 25 November 2012

Bahan-bahan berbahaya dan beracun dalam ponsel

bahan berbahaya dan beracun dalam ponsel
Tidak dapat dipungkiri bahwa telepon seluler generasi terbaru terus muncul, dimana mayoritas menawarkan kecanggihan teknologi baru yaang sesuai dengan perkembangan jaman. Tentu saja semakin baru teknologinya, semakin mahal harganya. Meskipun begitu banyak orang yang tidak keberatan, terutama didorong terjadinya peningkatan ekonomi yang terjadi di kalangan menengah Indonesia. Namun seiring dengan hal ini, ponsel juga menimbulkan masalah lain, yakni sampah beracun.

Mulai proses produksi hingga ponsel ini berhenti beroperasi, telah terjadi pencemaran lingkungan. Hal ini termaktub dalam sebuah hasil studi terbaru yang dilakukan oleh Ecology Center of Ann Arbor Michigan yang bekerjasama dengan ifixit.com dalam membedah 36 jenis ponsel yang berbeda. Hasil penelitian yang dipublikasikan menyebutkan bahwa terdapat setidaknya satu dari kandungan unsur beracun berikut ini di dalam ponsel anda, yakni: timbal (Pb), Bromin (Br), Klorin (Cl), Merkuri (Hg) dan Kadmium (Cd).
kandungan merkuri dalam ponsel
Menurut penelitian tersebut, direktur riset Ecology Center menyampaikan bahwa ponsel paling baik sekalipun masih mengandung bahan kimia berbahaya. Dari analisis terhadap 36 sampel ponsel tersebut, ponsel yang memiliki kandungan bahan berbahaya paling sedikit adalah Motorola Citrus, sedangkan yang terbanyak adalah iPhone 2G. Namun bisa dikatakan bahwa Apple membuat kemajuan dalam hal ini sehingga iPhone 4S maupun iPhone 5 masuk deretan ponsel terbersih di dunia.
Mungkin anda belum mengerti apa bahayanya bahan yang kami sebutkan diatas, oleh karena itu anda tidak boleh meremehkannya. Diduga bahan-bahan berbahaya ini erat kaitannya dengan cacat kelahiran, gangguan belajar, masalah serius pada kesehatan. Kandungan bahan berbahaya ini ditemukan lebih besar 10 hingga 100 kali daripada kandungan yang ditemukan di dalam tanah tempat pengolahan limbah elektronik di China. Oleh karena itu dibutuhkan regulasi yang jelas soal bahan-bahan berbahaya ini dan perlunya mendesain alat elektronik yang ramah lingkungan.
Secara keseluruhan, ada 1.106 ponsel yang dibongkar dan diuji oleh tim dari ifixit.com dengan menggunakan pancaran radiasi sinar X. Teknik ini dilakukan dengan membombardir sebuah obyek dengan radiasi lalu memeriksa jejak radiasi yang dipantulkan oleh obyek tersebut. Material tertentu secara spesifik dapat dikenali dari jejak radiasi yang dipantulkan. Dari penelitian ini diketahui bahwa polutan dan resiko kesehatan terberat dari ponsel datang dari mineral tambang yang digunakan dalam proses produksi dan sampah daur ulangnya.
Menurut lansiran Detroit Free Press, Ecology Center tidak membuat klaim akibat paparan dari penggunaan ponsel tersebut dalam riset yang dikerjakannya. Mereka hanya meneliti bahan berbahaya apa yang terkandung di dalam ponsel saja. Menurut Discovery bahan tambang yang biasa digunakan dalam ponsel adalah timah, tungsten dan emas. Terkait dengan emas, ada praktek eksploitasi dan tindakan brutal dalam pertambangannya di Republik Demokratik Kongo.
Discovery mencatat bahwa ketika sebuah ponsel di negara maju berakhir fungsinya, maka sejumlah besar itu dianggap sampah dan dikirim ke China, India, Pakistan, Vietnam dan Filipina yang mana proses daur ulang berlangsung. Para pekerjanya memiliki resiko terpapar bahan berbahaya tingkat tinggi saat tangan mereka yang telanjang bersentuhan dengan limbah tersebut. Sampah elektronik ini sejak lama memicu masalah besar, yakni adanya potensi limbah beracun yang dapat meracuni tanah dan air tanah serta masuk ke dalam tubuh manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar